Rabu, 23 Juli 2008

Tugas 2

SP Filsafat Umum

Carilah sumber lain yang memberi makna tentang Philos, Shopos, Philei, dan Shopia. Menurut Anda untuk apa (akademisi) belajar tentang Filsafat?

Pengertian Filsafat

Kata Falsafah atau Filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab (falsafah) dan diambil dari bahasa Yunani yaitu "Philosophia". Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan beraral dari kata-kata (Philia= persahabatan, cinta, dsb.), (philei=cinta-mencium-sahabat) dan (shopia= 'kebijaksanaan'). Sehingga arti harafihnya adalah seorang "pecinta kebijaksanaan" atau "Ilmu". Kata FILOSOFI yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".

Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problema falsafi pula. Tetapi paling tidak bisa dikatakan bahwa "falsafah" itu kira-kira merupakan studi daripada arti dan berlakunya kepercayaan manusia pada sisi yang paling dasar dan universal. Studi ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara presis, mencari solusi untuk ini, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu dan akhirnya dari proses-proses sebelumnya ini dimasukan ke dalam dialektik.

Dialektik ini bisa dikatakan sebuah bentuk dari dialog. Dan logika, filsafat sangat erat dengan logika. Logika merupakan ilmu yang sama-sama di pelajari dalam matematika dan filsafat. Hal ini membuat filsafat sebuah ilmu yang pada sisi tertentu bisa dikatakan banyak menunjukan segi eksakta, tidak seperti yang diduga banyak orang. = Tiga Tema Filsafat Barat = Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu.

Tema-tema itu adalah: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

· Tema pertama adalah "ontologi." Ontologi membahas tentang masalah "keberadaan" sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata), misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk hidup, atau tata surya.

· Tema kedua adalah "epistemologi." Epistemologi adalah tema yang mengkaji tentang pengetahuan (episteme secara harafiah berarti "pengetahuan"). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.

· Tema ketiga adalah "aksiolgi," yaitu tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan ...

Ketika kita mendengar kata Filsafat, maka kita akan berpikir tentang sebuah pemikiran yang mendalam dalam mencari sesuatu hakikat. Serta juga kita akan berpikir bahwa kita akan sama cara berpikir kita seperti para pemikir Yunani. Serta pemikiran tersebut hampir bisa dikatakan benar, akan tetapi hal tersebut masilah hal yang umum dan belum tentu jelas serta benar.

Adapun kajian kata Filsafat secara bahasa, terdiri dari dua suku kata. Yaitu kata Philo dan Sophos, Philo yang berarti cinta dan kata Sophos yang berarti hikmah atau ilmu atau bijaksana. Dengan demikian kata Filsafat dapat diartikan sebagai cinta terhadap ilmu atau hikmah, (Abbudin Nata, Hal: 254). Sedangkan menurut Hasbullah Bakry (1986, Hal: 9) mengatakan bahwa Filsafat berarti suka pada kebijaksanaan atau teman bijaksana, maksudnya setiap orang yang berFilsafat akan menjadi bijaksana. Akan tetapi lain lagi dengan Al-Syaibani yang mengatakan bahwa Filsafat berarti mencari hakikat sesautu, berusaha menautkan sebab akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Hal ini dapat terlihat bahwa kajian Filsafat bukan hanya berpikir keras tanpa ada hasil, melainkan sebuah usaha manusia dalam mencari sebuah hubungan pemikiran dengan pemikiran lainnya untuk menemukan jawaban dalam hidup ini. Adapun dalam Islam kajian ini biasa disebut sebagai Ijtihad.

Definisi FILSAFAT

Manusia mempunyai seperangkat pengetahuan yang bisa membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk. Namun penilaian ini hanya bisa dilakukan oleh orang lain yang melihat kita. Orang lain yang mampu memberikan penilaian secara objektif dan tuntas, dan pihak lain yang melakukan penilaian sekaligus memberikan arti adalah pengetahuan yang disebut filsafat. Filsafat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kita. Kemungkinan filsafat bisa juga disebut dengan apresiasi.
kata “filsafat” ini dari akar katanya, dari mana kata ini datang.

Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos pecinta, sophia kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya “cinta akan kebijaksanaan”. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Demikian arti filsafat pada mulanya. Menurut dari asal katanya pengertian filsafat terdiri dari kata filos(philos) yang artinya cinta dan solfiah yang artinya kearifan/kebijaksanaan. Filsafat berasal dari bahasa Yunani “Philosophia” yang mempunyai arti cinta akan kebijaksanaan/kearifan. Sedangkan bila kita berfilsafat mempunyai pengertian berpikir secara mendalam tentang hakekat segala sesuatu dengan cara mencari makna yang paling mendalam / makna sesungguhnya.

Definisi filsafat menurut beberapa ilmuwan antara lain:
1. PLATO

Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat untuk mencapai kebenaran yang asli artimya kebenaran yang telah dibuktikan secara nyata

2. ARISTOTELES
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, estetika

3. DESKARTES
Filsafat adalah kumpulan dari segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia sebagai bidang penelitian.

4. IMMANUEL CANT
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pangkal pokok dari segala pengetahuan.

5. AL FARABI
FILSAFAT adalah pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya

Ada empat macam persoalan dalam filsafat:
1. Apa yang dapat kita ketahui?
Jawaban dari pertanyaan tersebut terdapat dalam filsafat tentang metafisika.
2. Apa yang harus kita ketahui?
Jawaban ada pada filsafat tentang etika.
3. Sampai dimana harapan kita?
Jawaban ada pada filsafat tentang agama.
4. Apa yang dinamakan manusia?
Jawaban ada pada filsafat tentang antropologi.

Adapun pengertian filsafat yang lain adalah: Filsafat adalah perenungan yang berusaha untuk menyusun sebuah bagan konsepsional jenis tertentu dengan:

a. Melakukan analisis makna yang dikandung oleh istilah(bahasa)
b. Mengumpulkan hasil penyelidikan dalam satu sintesa.

Filsafat adalah penafsiran umum mengenai pengalaman, menjelaskan dan memahami dirinya, kelompok dan dunia. Filsafat merupakan suatu ungkapan perjuangan manusia dalam menyesuaikan tradisi. Tuntutan dan hasrat hidup yang lebih baik(dalam kaitan kebudayaan). Filsafat sebagai usaha mengetahui, mempelajari asas-asas tertinggi segala sesuatu.

Filsafat adalah
pencarian akan kearifan kehidupan
usaha untuk memahami jagad raya secara menyeluruh
penyelidikan akan tanggung jawab moral dan kewajiban sosial manusia
usaha untuk menyelami maksud Tuhan dan tempat manusia di dalam maksud itu
usaha untuk menemukan dasar dari ilmu alam
penyelidikan tegar tentang asal-usul, keluasan, dan validitas ide manusia
eksplorasi terhadap letak dari kehendak dan kesadaran di jagad raya
penyelidikan tentang nilai kebenaran, kebajikan, dan keindahan
usaha untuk mengkodefikasi aturan pada pikiran manusia guna peningkatan rasionalitas dan keluasan bagi pemikiran yang jernih

Filsafat, “Ilmu tentang hakikat”. Di sinilah kita memahami perbedaan mendasar antara “filsafat” dan “ilmu (spesial)” atau “sains”. Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yang dapat dialami, dapat diindera, atau alam empiris. Ilmu menghadapi soalnya dengan pertanyaan “bagaimana” dan “apa sebabnya”. Filsafat meninjau dengan pertanyaan “apa itu”, “dari mana” dan “ke mana”. Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari suatu masalah, seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang mencari tahu tentang apa yang sebenarnya pada barang atau masalah itu, dari mana terjadinya dan ke mana tujuannya. Maka, jika para filsuf ditanyai, “Mengapa A percaya akan Allah”, mereka tidak akan menjawab, “Karena A telah dikondisikan oleh pendidikan di sekolahnya untuk percaya kepada Allah,” atau “Karena A kebetulan sedang gelisah, dan ide tentang suatu figur bapak membuatnya tentram.”

Dalam hal ini, para filsuf tidak berurusan dengan sebab-sebab, melainkan dengan dasar-dasar yang mendukung atau menyangkal pendapat tentang keberadaan Allah. Tugas filsafat menurut Sokrates (470-399 S.M.) bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan. Sampai dengan kedua pengertian di atas, marilah kita simak apa kata Kattsoff (1963) di dalam bukunya Elements of Philosophy untuk melengkapi pengertian kita tentang “filsafat”:

· Filsafat adalah berpikir secara kritis.

· Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis

· Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut

· Filsafat adalah berpikir secara rasional

· Filsafat harus bersifat komprehensif.

Menurut saya berfilsafat adalah sebuah strategi dalam menyiasati kehidupa. Tujuan pendek dan langsung segenap ilmu ialah menyadarkan manusia akan pelbagai masalah yang terungkap dalam ilmu tersebut, dan memuaskan dahaga kodratinya untuk memahami kebenaran. Pasalnya, salah satu naluri paling dasar manusia adalah naluri mencari kebenaran atau keingintahuan yang tak berhingga dan tak terpuaskan. Pemuasan nisbi atas naluri ini akan memenuhi salah satu kebutuhan jiwa. Walaupun tidak semua individu mempunyai naluri ini dalam tingkat yang sangat aktif dan penuh gelora, ia tidak pernah sepenuhnya lenyap dan hilang.
Pada galibnya, setiap ilmu mempunyai pelbagai manfaat dan dampak tidak langsung dan berperantara atas kehidupan material dan spiritual manusia. Umpamanya, ilmu-ilmu alam memudahkan pemanfaatan alam dengan lebih besar dan meningkatkan kesejahteraan jasmani manusia, dan ia tersambung pada kehidupan alarm dan hewani manusia dengan satu perantara. Matematika memiliki dua perantara untuk mencapai tujuantujuan seperti di atas, kendatipun dengan cara lain ia bisa memengaruhi kehidupan spiritual dan dimensi maknawi manusia. Yaitu, saat matematika berkelindan dengan soal-soal filsafat, ketuhanan, dan penghayatan gnostis (`irfaniyyah) hati, dan saat ia membeberkan gejala-gejala alam sebagai imbas keteraturan, keagungan, kebijaksanaan, dan kasih-sayang Ilahi.

Hubungan dimensi-dimensi spiritual dan maknawi manusia dengan ilmu-ilmu kefilsafatan lebih dekat ketimbang hubungannya dengan ilmuilmu alam. Bahkan, ilmu-ilmu alam berhubungan dengan dimensi maknawi manusia melalui perantaraan ilmu-ilmu kefilsafatan. Hubungan tersebut paling tampak dalam teologi, psikologi filosofis, dan etika. Demikian itu karena filsafat ketuhanan (teologi) memperkenalkan kita kepada Tuhan, Sang Mahabesar, sifat-sifat keindahan dan keagungan-Nya dan mempersiapan kita untuk berhubungan dengan sumber pengetahuan, kekuasaan, dan keindahan yang tak berhingga. Psikologi filosofis memudahkan kita untuk mengetahui ruh beserta sifat-sifat dan ciri-cirinya dan menggugah kesadaran kita terhadap esensi (jauhar) kemanusiaan. la memperluas cakrawala pandang kita terhadap hakikat diri kita, mengajak kita untuk melampaui alam fisik dan sekat-sekat ruang serta waktu. Juga, memahami kita bahwa hidup manusia tidaklah terbatas dan terkungkung pada kerangka kehidupan duniawi dan material yang sempit dan gelap. Etika dan akhlak menjabarkan pola-pola menyucikan dan menghiasi kalbu serta menggapai kebahagiaan abadi dan kesempurnaan puncak.

Dalam rangka memperoleh semua pengetahuan tak terkira itu, sejumlah masalah dalam epistemologi dan ontologi mestilah dipecahkan trrlebih dahulu. Oleh karena itu, filsafat pertama adalah kunci untuk membuka perbendAharaan tak terkira dan tak tertandingi yang menjajakan kcbahagian dan keuntungan abadi tersebut. Itulah akar yang diberkahi dari “pohon yang baik”. Setiap saat ia membuahkan beraneka kebajikan spiritual dan intelektual serta kesempurnaan spiritual dan Ilahi yang tak ada habis-habisnya.a Dengan demikian, ia berperan sangat besar dalam menyiapkan landasan bagi kesempurnaan dan kekemuncakan manusia.

Selain itu, filsafat juga membantu manusia menghalau was-was setan dan menampik gelenyar materialisme dan ateisme; menjaganya dari penyimpangan berpikir dan macam-macam jerat yang menjatuhkan; melindunginya dengan Senjata pamungkas di arena adu gagasan dan membuatnya mampu membela pandangan-pandangan dan aliran-aliran yang benar sekaligus menyerbu dan membidas pandangan-pandangan dan aliran aliran yang keliru dan tidak sehat. Demikianlah, selain dengan unik berperan positif dan membangun, filsafat juga berperan tak tertandingi bagi pertahanan dan penyerangan. Pengaruhnya sungguh kuat dalam penyebaran budaya Islam dan penggusuran budaya-budaya lainnya.

Tidak ada komentar: